Tampilkan postingan dengan label BUMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUMI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Februari 2017

Berapa Nilai Wajar BUMI dan ke mana Arahnya?

Hari kemarin, Selasa 21 Februari 2017, harga saham sejuta umat, Bumi Resources (BUMI) turun ARB (Auto Reject Bawah) ke harga 294, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik tertinggi di 505 pada tanggal 27 Januari yang lalu. Banyak group Whatsapp dan group-group lainnya membicarakan penurunan ini. Banyak sekali yang mengeluh cut loss dan menderita kerugian. Bayangkan, jika Anda membeli BUMI di harga 505 maka nilai investasi Anda sudah berkurang sekitar 40% hanya dalam waktu kurang dari 1 bulan. Mengerikan bukan? Mungkin banyak dari Anda yang merasa bingung ataupun bimbang, apa tindakan yang harus dilakukan? Cut Loss atau Hold? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekarang mari kita telaah secara Analisa keuangan.



Pergerakan saham BUMI sejak Oktober 2016 – Februari 2017

Laporan Keuangan terakhir BUMI adalah Q3 tahun 2016, di mana secara umum belum ada peningkatan sebenarnya. Pendapatannya turun dari Rp 33.5 Miliar menjadi $ 18.1 Miliar ( -46% ). Ekuitas perusahaan juga masih minus atau defisiensi modal sebesar US$ 2.8 Miliar, serta hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu 1 tahun sebesar $ 3.6 Miliar, di mana jika dalam waktu 1 tahun tersebut, BUMI tidak dapat melunasi hutangnya, mengajukan penundaan pembayaran, atau mengkonversi menjadi saham (convertible bonds), maka BUMI akan dinyatakan pailit alias bangkrut. Jika kita melihat fakta-fakta tersebut, maka BUMI dapat dikatakan memiliki kinerja yang sangat parah.

Namun, di sisi lain ada opportunity yang dapat membuat BUMI dapat kembali meningkat performance nya di tahun 2017 ini. Pertama, kenaikan harga batubara global turut mengerek harga batubara milik BUMI. Average Selling Price (ASP) BUMI sepanjang Januari 2017 adalah US$ 57 per ton, lebih tinggi dibandingkan ASP BUMI selama periode 2016 sebesar US$ 42 per ton (naik 36%). Pencapaian serupa juga ditorehkan dua anak usaha BUMI, yakni PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC). ASP batubara Arutmin Indonesia tercatat mencapai US$ 38 per ton, naik 58% dibanding ASP 2016, US$ 24 per ton. Adapun ASP batubara KPC sebesar US$ 66 per ton, tumbuh 30%. Kedua, BUMI berhasil menyelesaikan proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Pada November 2016, para kreditur BUMI telah menyepakati proposal perdamaian berupa konversi utang menjadi saham. Melalui tukar guling itu, utang komersial BUMI senilai US$ 4,2 miliar akan berkurang menjadi US$ 1,6 miliar. Beban bunga utang BUMI juga akan berkurang lebih dari US$ 250 juta setiap tahun. Yang menarik, konversi utang menjadi saham BUMI akan dilakukan di harga Rp 926,16 per saham. Inilah yang membuat selama 3 bulan terakhir harga saham BUMI meningkat dari Rp 70 – 80 menjadi Rp 505 di Januari kemarin.

Pada tanggal 7 Februari 2017, perusahaan sudah melakukan Rapat Umum Pemegang Luar Biasa (RUPSLB) untuk meminta persetujuan melakukan Penawaran Umum Terbatas V kepada Para Pemegang Saham dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu, dan hasilnya adalah disetujui. Anda mungkin bertanya, kalau right issue akan dilakukan di harga Rp 926,16 per saham, mengapa kemarin BUMI kena ARB (Auto Reject Bawah) ke 294? Salah satu alasannya adalah Maybank Kim Eng (ZP) menjadi salah satu penjual terbesar saham BUMI di level Rp294. ZP melakukan penjualan sebanyak 753.000 lot, aksi tersebut berlangsung pada pukul 15:34-16:00 WIB. Saya juga yakin banyak dari Anda yang juga kena panic selling sehingga ikut mendorong jatuhnya harga saham BUMI.

Harga Wajar BUMI
Oke, terlepas dari fluktuatif nya saham BUMI belakangan ini, pertanyaan berikutnya ke mana sebenarnya arah saham BUMI? Oke, sekarang kita lihat. BUMI saat ini memiliki cadangan batubara sebanyak 3 Miliar Ton. Jika kita menghitung secara konservatif dengan asumsi Average Selling Price (ASP) BUMI sepanjang tahun 2016 di kisaran US$ 40 per metrik ton, maka nilai cadangan batubara BUMI masih sebesar US$ 120 miliar. Dari Average Selling Price US$40 tadi, kita ambil konservatif bahwa keuntungan yang diperoleh setelah dikurangi ongkos produksi dan royalti ke pemerintah adalah hanya 5%, maka diperoleh angka US$2. Sementara hutang BUMI setelah konversi utang menjadi saham adalah US$ 1.6 Miliar. Nilai wajar BUMI dapat dihitung dengan cara : (Cadangan batubara BUMI X Profit dari Average Selling Price) – Hutang BUMI à (3 Miliar Ton X $ 2 per Ton) - $ 1.6 Miliar = $ 4.4 Miliar

Sementara itu, jumlah saham beredar BUMI sebelum right issue adalah 36.6 Miliar lembar saham. Oleh karena itu, nilai wajar BUMI per lembar saham adalah $ 4.4 Miliar / 36.6 Miliar lembar saham = $0.12 per lembar saham, atau jika menggunakan nilai tukar US$ 1 = Rp 13,300, maka harga wajar BUMI per lembar saham adalah $0.12 X Rp 13,300 = Rp 1,598 (dibulatkan menjadi Rp 1,600)

Apakah itu berarti harga saham BUMI PASTI akan ke Rp 1,600? Tidak ada yang bisa menjawab, mengingat BUMI adalah saham sejuta umat, di mana banyak faktor yang akan berperan di dalamnya. Investasi di saham BUMI ini lebih ke arah spekulasi ketimbang investasi sebenarnya.

Kesimpulan

So, kesimpulannya adalah : jika Anda ingin berinvestasi di saham yang dapat membuat Anda tidur nyenyak, saya menyarankan agar Anda invest di saham lain yang lebih sesuai dengan kaidah value investing. Namun, jika Anda memang ingin mencoba untuk berspekulasi, Anda bisa “mencicipi” saham ini. Namun, seperti biasa, Anda bertanggung jawab terhadap investasi Anda sendiri. Bagi Anda yang sahamnya masih nyangkut, semoga artikel ini dapat sedikit menenangkan hati Anda.

Kamis, 09 Februari 2017

Cut Loss – Resep Jitu Hilang Uang

Saya sangat semangat sekali ketika menulis artikel ini. Semangat karena cut Loss menjadi menu sehari-hari ketika Penulis masih menjadi seorang active trader. Mulai dari cut loss 2 – 3% sampai dengan cut loss puluhan persen.

Ketika menjadi trader, Penulis tidak memperhatikan yang namanya analisa fundamental (dan ini kebodohan Penulis yang terbesar). Penulis hanya melihat grafik dan chart mingguan, serta sentimen terbaru tentang perusahaan. “chart nya cakep nih..” itu saja yang ada di pikiran Penulis dalam memutuskan membeli sebuah saham ketika menjadi trader. Beberapa hari setelah beli, ternyata seringkali saham tersebut ternyata malah turun. Dalam trader, kita mengenal batas stop loss, biasanya 5%, sehingga kerugian yang kita alami kita batasi hanya 5%. Sekilas ini ide yang bagus, karena seolah kita membatasi kerugian agar tidak terlalu besar. Selanjutnya apa yang terjadi? Setelah cut loss, biasanya kita penasaran dan berharap saham tersebut jatuh lebih dalam lagi supaya kita siap menampung di bawah. Ternyata apa yang terjadi? Saham tersebut malah rebound ke atas dan kita ketinggalan kereta. Kita cuma bisa gigit jari. “Sialan, tau gitu gk gw jual”. Pasti banyak yang berpikiran begitu. Anda perlu hati-hati, jika Anda mulai seperti ini, Anda secara tidak sadar mulai melihat investasi di saham ini seperti meja judi.

“Wah, kalau saham turun, artinya kita gk usah jual alias hold aja terus pak?” Well, enggak juga. Penulis ingat membeli saham BUMI di harga 800 ketika akhir tahun 2012, dan sempat uptrend menyentuh 1000. Tak lama kemudian, BUMI kembali turun ke 700, 600, 500, dan terus turun. Para Analis waktu itu rekomendasi HOLD, karena sentimen-sentimen nya masih positif. Kemudian turun terus 400, 300, 200.. Barulah di harga 200 ini, para analis merekomendasikan SELL. Kalau kita hitung, penurunannya sudah 75%. Penulis hanya bisa pasrah. Antara rela dan tidak rela rugi 75% (Meskipun saat artikel ini ditulis BUMI rebound ke level 400 - 500, namun sempat 2 tahun nongkrong di 50 dan tidak ada bid). Belum lagi, waktu itu Penulis juga menggunakan margin (kebodohan Penulis yang kedua), sehingga yang Penulis jual waktu itu adalah saham lain (yang sialnya posisi nya lagi nyangkut juga). Setelah Penulis memahami konsep Value Investing, dan Penulis melihat laporan keuangan BUMI, barulah di situ Penulis hanya bisa meratapi nasib (lebay mode on).

Grafik saham BUMI periode 2012 – 2017

“Waduh kalau gitu, gimana saya tahu kapan harus cut loss dan kapan harus hold?” Oke begini, sebelum pertanyaan tersebut kita jawab, kita perlu ingat terlebih dahulu prinsip investasi Warren Buffett, “Never lose money on investment”. Di sini Buffett mengindikasikan, bahwa sebelum memutuskan untuk membeli sebuah saham, seorang investor harus tahu betul fundamental perusahaan tersebut, dan apakah kita membeli saham tersebut di harga yang murah (undervalued) atau mahal (overvalued). Jadi, jangan membeli saham karena ikut-ikutan arus karena saham tersebut lagi naik kenceng.

Yang kedua, dalam investasi kita tahu bahwa pergerakan saham sangat volatile. Dalam jangka pendek, sebuah saham akan naik dan turun seiring dengan sentiment positif dan negatif. Namun dalam jangka panjang, semua itu kembali kepada FUNDAMENTAL PERUSAHAAN. Anda perlu menganalisa dan melihat lebih dalam, alasan mengapa saham yang Anda pegang saat ini sedang mengalami penurunan.

Oke, kembali ke pertanyaan, “kapan saya harus cut loss dan kapan harus hold?”. Dalam Value Investing, selama saham tersebut masih memiliki FUNDAMENTAL YANG BAGUS dan masih BELUM OVERVALUED, maka investor disarankan tetap untuk HOLD saham tersebut. Sementara apabila saham tersebut memiliki FUNDAMENTAL YANG JELEK (atau tidak lagi sebagus sebelumnya) dan SUDAH OVERVALUED, maka investor disarankan untuk SELL saham tersebut.

Untuk lebih mudahnya, saya akan memberikan Anda 2 contoh:

CONTOH 1 :
Saham A anda beli di harga 500, kemudian turun menjadi 450. Anda cek fundamental perusahaan tersebut. Ternyata berdasarkan laporan keuangan terakhir perusahaan tersebut Net Profit nya masih bertumbuh, EPS nya naik, PER nya masih masuk kategori murah dan di bawah industry, PBV nya juga masih masuk kategori murah, ROE nya pun masih relatif oke. Dan setelah Anda teliti lagi, ternyata saham tersebut turun karena ada sentimen atau rumor negatif yang menimpa perusahaan tersebut. Maka Anda masih okay untuk HOLD saham ini karena penurunannya hanya sementara dan pasti akan rebound lagi. Bahkan kalau Anda masih mempunyai cadangan cash, Anda boleh saja menambah posisi untuk averaging down.

CONTOH 2 :
Saham B anda beli di harga yang sama 500, kemudian turun juga menjadi 450. Anda cek fundamental perusahaan tersebut. Ternyata berdasarkan laporan keuangan terakhir perusahaan tersebut Net Profit nya turun dibandingkan periode sebelumnya atau malah RUGI, EPS nya turun, PER nya sudah masuk kategori mahal dan di atas industry, PBV nya juga sudah masuk kategori mahal, ROE nya pun kecil. Namun masih ada sejumlah pihak yang menghembuskan prospek positif misalkan akan ada project besar di 2 – 3 tahun mendatang. Maka Anda tidak usah ragu lagi untuk SELL saham ini. Meskipun ada prospek positif tentang project besar 2 – 3 tahun mendatang, toh itu kn masih prospek. Bisa jadi bisa tidak. Dapat project nya pun belum tentu menguntungkan buat perusahaan tersebut.


So, semoga sekarang Anda lebih memahami kapan kita perlu untuk Cut Loss dan kapan kita perlu untuk hold saham yang kita pegang. Jika Anda masih kurang jelas, Anda dapat bertanya melalui Facebook : www.facebook.com/ValueInvestingIndonesia, atau reply via website / blog ini. Anyway, jika Anda kurang setuju dengan artikel ini juga sah-sah saja J.