Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

Benarkah Investasi Tetangga Selalu Lebih Hijau?

Kita sering mendengar istilah rumput tetangga selalu lebih hijau. Apa iya benar begitu? Jika memang rumput tetangga selalu lebih hijau, Anda akan selalu melihat ke samping dan membandingkan Anda dengan orang lain. Dengan kata lain, Anda tidak akan pernah puas. Begitu pula dengan investasi. Anda kemungkinan besar pasti pernah membandingkan portfolio yang Anda pegang saat ini dengan portfolio teman Anda, atau mungkin investment club Anda, dan Anda merasa bahwa return yang Anda dapatkan sekarang tidak menarik dibandingkan dengan investasi teman Anda. Namun, Anda perlu ingat bahwa tidak ada satupun investor di dunia ini yang memiliki gaya, strategi, tujuan investasi, atau tingkat penerimaan risiko yang 100% sama, karena kita semua adalah individu yang berbeda.



Rumput tetangga selalu lebih hijau?


Anda mungkin pernah mengalami beberapa contoh kejadian berikut ini :

Contoh 1 :
Asumsikan Anda membeli saham A di Rp 60 per lembar saham, dan berniat menjual di Rp 90 per lembar saham. DI tengah perjalanan, Anda melihat teman Anda ternyata memegang saham B beli di Rp 50 dan keluar di Rp 100 dalam waktu 1 minggu. Sementara dalam waktu sebulan, saham A Anda tadi masih berada di Rp 68 per lembar saham.

Contoh 2 :
Anda membeli saham C setiap bulannya secara berkala dengan tujuan sebagai uang pensiun dalam jangka waktu 10 tahun dari sekarang. Anda sudah memperkirakan akan mendapat ROI sebesar 300% dalam waktu 10 tahun. Namun, manajer investasi Anda tiba-tiba menceritakan saham D dalam waktu 1 tahun bisa memperoleh ROI sebesar 250%.

Bagaimana perasaan Anda? Hmm sebagai manusia normal, pastinya ada perasaan iri, kecewa, sedikit menyesal karena portfolio saham Anda menjadi kurang seksi dibandingkan dengan teman Anda atau yang manajer investasi Anda ceritakan. 

Hmm.. sekarang coba kita balik ceritanya. Bayangkan Anda berada di posisi teman Anda, di mana portfolio Anda melejit jauh lebih cepat daripada teman Anda. Apa yang ada di pikiran Anda? Saya berani bertaruh, 80% kemungkinan Anda akan bilang “main saham itu cara mudah dan cepat dapat duit”, dan karena uang yang Anda dapatkan “mudah dan cepat”, maka selanjutnya Anda akan membuang profit yang sudah Anda dapatkan. Mungkin Anda akan membeli mobil mewah, berlibur ke Las Vegas (atau mungkin berjudi di sana), atau hal-hal konsumtif lainnya. Anda menjadi kemaruk dan membuang uang yang Anda dapatkan. Anda mungkin ngeles dengan beralasan bahwa hal tersebut Anda lakukan untuk menikmati hasil jerih payah Anda. Kemudian, sepulangnya dari Las Vegas, karena Anda menganggap main saham itu mudah dan cepat dapat duit, Anda jadi sombong. Anda kemudian main lagi di saham dan hasilnya sekarang? Zonk!!! Karena ketamakan Anda tadi, Anda harus cut loss 50%.

Bandingkan dengan jika Anda meraih profit yang reasonable namun konsisten, meskipun tidak terlalu spektakuler, Anda akan menjaga betul uang hasil investasi Anda. Anda mungkin “hanya” profit 20 – 30% per tahun namun konsisten, Anda akan berlaku jauh lebih bijak menjaga uang Anda daripada hot money yang Anda dapatkan dalam waktu cepat. Dalam investasi berikutnya pun, Anda juga akan menjadi berhati-hati dengan memperhatikan fundamental perusahaan tersebut sebelum membeli, bukannya membeli karena saham sebelah naik lebih cepat.


Saat Anda sudah merealisasikan profit, Anda sebenarnya memiliki dua pilihan : memutarkan profit anda kembali, atau menghamburkannya. Menggunakan sebagian dari profit untuk hal yang Anda sukai memang tidak salah, karena Anda perlu menghargai diri Anda sendiri. Namun alangkah baiknya jika tidak berlebihan. Ingatlah jika Anda menang besar hari ini, belum tentu Anda menang besar esok hari. Tetaplah membumi.

Rabu, 01 Februari 2017

How Value Investing Save My (Investment) Life

Well, seperti yang penulis sampaikan di artikel sebelumnya.. Penulis pernah mengalami kejatuhan dari Pasar Saham di tahun 2013, setelah sebelumnya sempat profit besar di 2009 – 2012. Namun Mr Greedy (keserakahan) pula lah yang membawa Penulis harus merasakan pengalaman pahit tersebut. Banyak sekali kesalahan yang Penulis lakukan, dan Penulis ingin sekali sharing supaya Anda tidak perlu jatuh ke lubang yang sama dengan saya. Untuk membaca kesalahan yang dilakukan penulis dapat dilihat di sini.

Di tahun 2012 itu pula Penulis trauma dengan dunia saham (mungkin sebagian dari Anda juga masih trauma sampai saat ini) dan membuat Penulis vakum selama lebih dari 1 tahun di dunia saham. Dana penulis waktu itu hanya tersisa 15% dari modal awal. Yaa Karena itu tadi : mindset nya salah (ingin cepat kaya dari saham), tekniknya salah (hanya pakai technical analysis tanpa melihat fundamental analysis), eksekusi nya juga salah (banyak percaya rumor, trading dengan frekuensi tinggi, ikut arus, terlalu percaya analis, dll). Semuanya serba salah pokoknya.

Namun, selama masa vakum tersebut, Penulis mencoba mempelajari buku-buku Warren Buffett (dan buku Adam Khoo) waktu itu. Para investor sukses itu menggunakan Value Investing sebagai metode pengambilan keputusan mereka dalam berinvestasi. Saya tidak akan menceritakan Value Investing secara detail di sini (saya ingin Anda memahami terlebih dahulu why nya, ketimbang what nya). Pada awalnya, saya melihat pendekatan Value Investing ini terkesan old school (ketimbang technical analysis yang berisi grafik-grafik dan chart cantik). Awalnya Penulis malas untuk mempelajarinya karena harus buka laporan keuangan, mempelajari rasio keuangan, dll.

However, memang tidak ada jalan pintas untuk menjadi sukses. Penulis mau tidak mau juga “dipaksa” untuk mulai membuka Laporan Keuangan perusahaan. Penulis juga mempelajari konsep-konsep Value Investing dan Fundamental Analysis Perusahaan. Penulis mempelajari yang namanya EPS (Earning Per Share), PER (Price to Earning Ratio), PBV (Price to Book Value), Margin of Safety, Intrinsic Value, dll. Mendengarnya saja mabok? Eits nanti dulu.. ternyata tidak sesulit kelihatannya.. Kalau kita mau belajar ternyata tidak sulit. Dan tahukah Anda, dengan konsep Value Investing kita juga bisa melihat apakah fundamental perusahaan ini sedang bagus atau tidak, dan valuasi saham nya terlalu tinggi (overvalued), sedang (fair), atau terlalu rendah (undervalued) hanya dalam waktu 5 – 10 menit. Menarik bukan?

Semakin Penulis memahami konsep Value Investing, kepercayaan diri Penulis mulai pulih. Dari yang tadinya trauma, akhirnya muncul keberanian untuk memulai lagi investasi di dunia saham. Dengan mengumpulkan sebagian dari gaji, Penulis masuk kembali ke dunia saham di akhir tahun 2013. Namun kali ini dengan persiapan yang jauh lebih matang, dengan mindset yang benar, teknik pemilihan saham yang benar, dan eksekusi yang benar. Apakah langsung profit? Tidak juga. Tapi dengan mindset yang benar, Penulis sudah belajar bahwa investasi yang sukses BUTUH WAKTU. Puji Tuhan, dari 2014 – 2016 kemarin, Penulis selalu mencatatkan profit jauh di atas kinerja IHSG. Dan yang patut Penulis syukuri, semua kerugian di tahun 2013, TERBAYAR LUNAS bahkan JAUH MELEBIHI jumlah kerugian tersebut.

Apakah konsep Value Investing ini adalah konsep terbaik? Jawabannya tergantung bagaimana Anda melihatnya. Bagi Penulis, konsep Value Investing adalah konsep yang paling COCOK buat Penulis, karena tidak perlu lagi deg-degan ketika harga saham turun, tidak perlu lagi panik ketika IHSG bearish, tidak perlu lagi setiap menit membuka layar trading untuk melihat harga saham hari ini, tidak perlu lagi bingung kalau ada rumor ini dan itu. Sepanjang kita sudah memilih saham yang sesuai dengan konsep Value Investing, kita bisa “tidur dengan nyenyak”. Value Investing tidak hanya mengenai teknik pemilihan saham yang tepat, melainkan juga melatih mindset yang tepat.


Oleh karena itu lah, Penulis terdorong untuk menjadi berkat bagi banyak orang, dengan sharing di web ini, dan ke depannya juga akan memberikan sharing, pelatihan, atau seminar mengenai Value Investing ini. Penulis sendiri sudah sharing tentang Value Investing ini ke beberapa teman terdekat dan mereka juga sudah mulai mempraktekannya.

Selasa, 31 Januari 2017

How to Lose Money in Investment

What??? Saya gk salah baca nih? Kenapa judulnya How to Lose Money in Investment?

Iya Anda tidak salah baca judulnya. Sengaja Penulis bikin judul seperti itu, Karena banyak investor punya mindset ingin cepat kaya dari saham. Penulis punya teman yang sangat aktif trading di Pasar Saham, sampai-sampai kalau 1 minggu saham yang dia beli masih “jalan di tempat”, tangannya udah gatel pencel tombol “Sell”.  Alasannya, “iya udah seminggu gak jalan, mending beli saham lain udah jalan tuh”. Kemudian dia melanjutkan “kalo ampe seminggu gk naik, kapan gw bisa kaya?” Hmm..

Memang Penulis awalnya juga seperti ini, rasanya gatel kalo pagi kita beli saham eh seharian gk naik-naik, belum lagi kalau malah turun, rasanya pengen kita “Sell” saat itu juga. Nah Mindset seperti ini lah yang, secara tidak sadar, membuat kita sebagai investor saham justru menuju ke jurang kejatuhan. Percayalah, Penulis pernah melalui nya, dan itu sama sekali TIDAK ENAK.

Oleh Karena itu, Penulis akan berbagi jurus jitu How To Lose Money in Investment :   

1. Selalu Berusaha Menebak Arah Pasar dan Mengikuti Rumor dalam Mengambil Keputusan
Banyak investor menguras energi dan waktu untuk memprediksi dan menebak harga saham untuk minggu depan, esok hari, atau beberapa jam ke depan. Apakah memprediksi pasar itu salah? Tidak juga. Cuma masalahnya sangat tidak efisien menghabiskan waktu dan tenaga menebak harga saham. Sering kali kita juga mendengar analis atau pialang saham mengatakan Target Price saham A adalah Rp 600. Namun, sering kali prediksi itu justru meleset.

Lalu apa hubungannya berusaha menebak arah pasar dengan kehilangan uang dalam investasi? Dengan sering nya anda berusaha menebak arah pasar, anda akan mencari banyak informasi teknis. Sayangnya, banyak informasi tersebut justru bersifat RUMOR, yang seringkali justru menyesatkan. Seringkali bandar mempermainkan harga dengan menciptakan rumor dengan harapan mengangkat harga saham. Kemudian banyak Investor ritel mengikuti, dan ternyata setelah rumor tersebut ternyata tidak sesuai kenyataan, saham tersebut kembali turun dan dana Anda malah nyangkut akibat rumor tersebut.

Penulis sendiri sekarang ini sudah tidak terlalu memperhatikan informasi teknis kecuali Corporate Action yang jelas-jelas ada di website resmi www.idx.co.id. Atau jika anda memang ingin memastikan, bisa menghubungi corporate secretary dari emiten yang bersangkutan.


2.  Keterlibatan Emosi secara Berlebihan
Ketika Anda membulatkan keputusan untuk melakukan investasi, Anda tidak hanya melibatkan logika, melainkan juga perasaan Anda. Ada suatu harapan bahwa Anda akan lebih bahagia jika Anda memiliki lebih banyak uang di kemudian hari. Harapan itulah yang merupakan keterlibatan emosional Anda.

Jika Anda pernah merasakan nikmatnya profit taking, atau ketika market sedang bullish, pasti Anda akan merasa bahagia. Sebaliknya, Anda akan sedih, kecewa, dan bahkan frustasi ketika anda harus cut loss atau market sedang bearish. Padahal kalau kita perhatikan di layar trading, harga saham hanyalah sejumlah angka berwarna-warni dan uang adalah angka yang selalu berpindah tangan.

Emosi berlebihan dalam investasi dan khusus nya trading tidak akan membawa keuntungan bagi Anda, karena Anda tidak hanya melihat angka namun sudah dihubungkan dengan kebahagiaan Anda. Percaya atau tidak, salah satu faktor dominan yang menggerakkan bursa di manapun adalah faktor emosi. Panic buying, panic selling, bias selection in stock picking adalah hasil dari tindakan yang dilandaskan pada emosi. Tapi saya harus mengingatkan kepada Anda: Lebih banyak uang tidak selalu membuat Anda bahagia. Maka dari itu, gunakan logika Anda lebih banyak ketimbang perasaan atau intuisi.

3.  Tidak Peduli dengan Fundamental Analysis
Well, banyak investor hanya melihat Technical Analysis sebagai keputusan membeli saham. Jika menunjukkan upward, maka recommend BUY; sebaliknya jika menujukkan downward, maka rekomendasi SELL. Tapi, Anda wajib tahu bahwa pasar saham sangat fluktuatif dalam short term.

Banyak investor pasti pernah mengalami kejadian ini: hari ini beli saham A di harga 600, selama seminggu ke depan turun menjadi 595, 590, dst sampai 580. Berdasarkan analisa teknikal, sudah jelas : CUT LOSS. Eh minggu depannya ternyata hanya dalam 3 – 4 hari perdagangan, harganya bounce back menjadi 650. Ketinggalan kereta deh. Penulis juga pada awal berinvestasi sering kali kecolongan dengan pola-pola seperti ini. Akhirnya karena keseringan Cut Loss, malah jadi berdarah-darah.

Sementara dalam Value Investing, atau jika kita lebih memperhatikan Fundamental Analysis sebuah perusahaan. Justru penurunan harga saham (selama fundamental perusahaannya masih bagus), adalah momen untuk MEMBELI LEBIH BANYAK LAGI. Karena jika fundamental perusahaannya bagus, maka PASTI saham tersebut akan naik lagi (kecuali memang fundamental nya tidak lagi sebagus sebelumnya).

4.  Transaksi Menggunakan Margin
Fasilitas margin memang sudah sangat umum digunakan. Bahkan beberapa sekuritas “berbaik hati” memberikan limit margin yang besar bagi investor yang “rajin” bertransaksi. Apa sih margin itu? Bagi Anda yang belum paham, contoh apabila Anda punya yang untuk beli saham Rp 1 Miliar, dengan margin 1:4 kapasitas anda menjadi Rp 4 Miliar. Wah asyik donk? Eits.. Nanti dulu.. Penulis pernah buntung gara-gara fasilitas margin.

Dengan menggunakan fasilitas margin, anda “optimis” bahwa saham yang anda beli yang menggunakan margin tersebut akan naik, sehingga keuntungan anda menjadi lebih besar. Namun, bagaimana jika saham yang anda beli dengan margin tadi malah turun? Betul sekali, kerugian anda akan jadi lebih besar. Resiko terburuk yang akan anda hadapi adalah margin call, di mana Anda harus menambah deposit margin, atau saham anda terkena forced sell (jual paksa atau cut loss paksa). Mengerikan bukan?

Banyak orang menggunakan margin karena tergiur oleh keuntungan. Contoh di atas tadi, bila anda mengalami untung 20%, maka dengan fasilitas margin tadi, keuntungan anda menjadi 20% X 4 = 80% dari total modal awal. Akan tetapi, keadaan sangat mungkin terbalik. Apabila kita berbicara kerugian dalam margin, maka kerugian anda juga harus dikali empat!!!

Sekarang bayangkan seperti ini: Apa yang terjadi bila anda menggunakan margin dan saham anda turun? Pasti Anda akan berusaha memperkecil loss anda dengan transaksi LEBIIH BESAR lagi. Kemungkinan besar Anda pernah melakukan hal ini, dan ujung-ujungnya pasti Anda selalu nyangkut lebih banyak lagi. Bukan perkara jago atau tidak, tapi emosi Anda sudah membubarkan tujuan semula anda.

5.  Terlalu Asyik Trading
Kebanyakan investor berkamuflase menjadi seorang trader, di mana ia sangat aktif jual dan beli saham, bahkan bisa hampir setiap hari. Alasannya yaa itu tadi, supaya lebih cepat kaya. Namun tahukah anda? Statistik menunjukkan, dalam kurun waktu 10 tahun, investor yang sering melakukan strategi bertahan (hold), ternyata mendapatkan return yang jauh lebih signifikan, ketimbang trader yang rajin dan rutin melakukan trading.

Lalu ngapain Anda berusaha sampai ngotot kalau hasilnya sama sekali tidak sepadan? Logika sederhananya, hukum Pareto berlaku pula di sini. Semakin banyak dan semakin sering frekuensi trading anda, maka resiko anda akan semakin meningkat, dan artinya kemungkinan Anda kehilangan uang juga semakin besar.

Salah satu ajaran Warren Buffett adalah “Don’t hit every incoming ball”. Jangan memukul tiap lemparan yang datang. Buffett suka untuk melakukan pembelian dan penjualan sedikit mungkin. Memang tidak mudah, karena godaan untuk taking profit begitu ada untung sedikit memang besar. Sekarang, Penulis hanya menjual saham hanya JIKA analisa fundamental atau laporan keuangan terbaru tidak lagi sebagus sebelumnya, atau valuasi nya sudah overvalued.


Jadi bagaimana? Anda sudah tahu sekarang resep jitu kehilangan uang dalam berinvestasi. Penulis tentunya berharap Anda tidak sampai mengalami hal tersebut. Jadi alangkah baiknya jika mulai sekarang, Anda (dan juga Penulis) lebih bijak dalam berinvestasi. 

Senin, 30 Januari 2017

5 Prinsip Warren Buffett yang Sering Diabaikan Kebanyakan Investor

Dalam artikel sebelumnya, Penulis mengatakan bahwa Warren Buffett memiliki prinsip-prinsip sederhana, yang seringkali Penulis sendiri abaikan pada awal-awal berinvestasi di saham. Sebenarnya ada lebih banyak prinsip Warren Buffet dalam berinvestasi, namun Penulis pilihkan yang relevan dengan kebanyakan investor saat ini :

1. Takutlah Saat Orang Lain Tamak, dan Tamaklah Saat Orang Lain Takut.
Pasar saham selalu dipengaruhi oleh emosi yang sangat kuat akan ketamakan dan ketakutan. Warren Buffett sering memanfaatkan munculnya emosi yang mudah menular ini dengan bertindak berlawanan dengan sentimen yang sedang berkembang. Jika kebanyakan investor tamak, Buffett menjadi “penakut” atau setidaknya sangat konservatif. Sebaliknya, jika kebanyakan investor ketakutan, Buffett menjadi “tamak” atau menjadi lebih agresif.

Pada tahun 1960-an, pasar saham mulai melonjak tinggi di mana harga-harga menjulang dan volume membumbung tinggi. Banyak orang menjadi sangat bergairah di pasar saham dan hal tersebut berperan besar dalam menaikkan harga saham. Seperti balon yang sedang ditiup, banyak orang yang ingin turut memompakan udara panas ke dalamnya. Dalam situasi ini, Buffett tidak akan melakukan investasi, Karena harga saham naik secara irasional dan dihargai berlipat-lipat dari nilai actual fundamental bisnisnya. Pada awal 1970 an, terjadi peristiwa penurunan pasar yang sangat signifikan. Dow Jones menukik tajam hingga menembus poin di bawah 700. Saat itulah, Buffett mulai banyak membeli.

2. Putuskan Sendiri Investasi Anda
Warren Buffett yakin bahwa orang kebanyakan bisa meraih kesuksesan dalam berinvestasi tanpa harus mengandalkan pialang, pakar pasar modal, atau para professional lainnya. Dan Buffett melangkah lebih jauh lagi. Menurutnya, pada umumnya orang-orang yang dianggap pakar ini tidak banyak gunanya. Apa pun klaim mereka atas apa yang bisa mereka lakukan, Anda mampu melakukannya lebih baik untuk diri sendiri.

Penghasilan pialang didasarkan pada banyaknya aktivitas, komisi dihasilkan dari aktivitas pembelian dan penjualan saham. Secara logis, pialang biasanya tidak mendapatkan penghasilan bila klien mereka menahan sahamnya untuk jangka waktu yang lama. Aktivitas itulah yang sering kali menjadi perhatian utama seorang pialang. Pialang dibayar berdasarkan jumlah transaksi yang dilakukan oleh investor, tidak pedulu apakah investasi tersebut merupakan langkah yang bijak atau tidak.

Kebanyakan professional bidang keuangan memang meyakini praktik dan formula yang telah mereka kuasai dengan susah payah dalam waktu yang lama. Banyak professional ini kemudian mengabaikan praktik investasi nilai (value investing). Seperti hal nya Buffett, Anda dapat menghasilkan uang melalui investasi nilai. Ingatlah bahwa tidak seorang pun mempunyai riwayat investasi sebaik Buffett.

3. Jangan Melihat Ticker
Tickers hanya menunjukkan harga. Investasi tidak sekedar mengenai harga. Apakah investor terbesar dunia memiliki ticker (alat yang menampilkan harga saham dan informasi pasar lainnya)? Tidak. Jadi bagaimana Warren Buffett mengamati pergerakan harga saham harian atau per jam? Dia tidak melakukannya. Bagaimana dengan pergerakan bulanan? Dia juga tidak tertarik sama sekali.

Coba bandingkan hal ini dengan kantor broker atau program berita keuangan di TV, yang layarnya terus-menerus menampilkan pergerakan harga, angka, dan decimal. Banyak investor yang mengamati pergerakan harga ini detik demi detik seolah-olah hidup mereka tergantung pada pergerakan itu. Warren Buffett tidak pernah menggubris selisih harga dalam jangka pendek. Jika seseorang memiliki saham dalam bisnis yang hebat, maka jangka pendek bukanlah hal yang penting, dan jangka panjang akan teratasi dengan sendirinya. Satu-satunya pengecualian dalam hal ini adalah jika harga turun secara signifikan, menawarkan Buffett peluang untuk membeli lebih banyak saham pada harga rendah.

Bagi Buffett, ia hanya peduli pada seberapa bagus fundamental bisnis tersebut. Dia berfokus pada nilai bisnis dan prospek masa depan, bukan pada harga saham. Namun bagi kebanyakan investor, yang dipedulikan adalah memeriksa harga dan volume transaksi harian. Itu adalah resep untuk membuat Anda pusing dan stress, bukan resep untuk sukses berinvestasi. Memeriksa harga saham setiap hari dapat menyebabkan perubahan mood yang berlebihan. Peningkatan harga saham menimbulkan euphoria dan optimism, sementara penurunan harga menyebabkan kelesuan dan pesimisme. Pada saat mood yang berubah-ubah ini mulai mempengaruhi keputusan jual beli anda, segala hal yang buruk bisa terjadi.

4. Konsentrasikan Investasi Saham Anda
Kebanyakan pialang saham menyarankan investor untuk melakukan diversifikasi – yaitu memiliki saham dari banyak perusahaan berbeda secara sekaligus, sehingga jika saham tertentu jatuh, tidak akan menghancurkan seluruh portfolio yang anda miliki. Warren Buffet berpendapat lain. Kebijakan Buffett adalah mengkonsentrasikan sahamnya. Sering kali dia hanya memiliki beberapa saham dan menginvestasikan banyak uang dalam saham-saham itu. Jika anda telah menemukan saham yang tepat, mengapa hanya membeli sedikit? Buffett hanya membeli 5 – 10 perusahaan yang bagus dengan harga yang cocok dan beli sebanyak yang kita mampu di setiap perusahaan. Ketika Buffett benar-benar yakin dengan sebuah investasi, dia tidak akan ragu-ragu. Bahkan, dia akan menginvestasikan banyak uang di dalamnya.

Jadi, pada saat para pialang memaksa anda untuk mendiversifikasi investasi anda dan memperingatkan anda bahwa terlalu banyak harta yang dipertaruhkan dalam sedikit saham, ingatlah bahwa Warren Buffett saat ini emiliki kekayaan senilai 44 miliar dollar Karena dia memiliki 474.998 saham. Mengapa tidak menunggu sampai Anda mendapatkan perusahaan yang hebat dengan harga yang pas baru melakukan investasi besar di dalamnya?

5. Bersabarlah
Nah, sepertinya ini yang paling sulit dilakukan kebanyakan investor. Bersabarlah. Warren Buffett berpesan, berpikirlah untuk 10 tahun mendatang dan bukan untuk 10 menit ke depan. Pelaku transaksi harian (atau “swing traders”) suka melemparkan saham mereka setelah beberapa minggu atau bahkan dalam beberapa hari. Buffett mempertahankan saham selama beberapa tahun bahkan sampai beberapa dekade.

Perlu diingat bahwa pasar seringkali benar-benar bermusuhan dengan pihak yang suka keluar-masuk, dan cukup ramah terhadap pihak yang suka membeli dan mempertahankan. Kesabaran diperlukan untuk sukses dalam investasi nilai. Charlie Munger, partner bisnis Buffett selama bertahun-tahun, menyampaikan pandangan Buffett mengenai perlunya kesabaran dengan cara yang lebih langsung ke inti masalah: “Investasi adalah di mana Anda menemukan beberapa perusahaan yang bagus kemudian berdiam diri saja. Terlalu banyak tingkah dalam berinvestasi adalah sebuah kesalahan. Kesabaran adalah bagian dari permainan.”

Berikut latihan mental yang direkomendasikan oleh Buffett. Bayangkan, ketika anda membeli saham, bahwa keesokan harinya pasar ditutup untuk liburan selama lima tahun. Buffett berkata, dia tidak akan berpikir dua kali mengenai perubahan situasi tersebut, Karena dia hampir tidak pernah membeli saham dengan tujuan melemparkan lagi secepat itu. Tentu saja tidak mudah untuk bersabar, tetapi memiliki temperamen yang tepat merupakan komponen yang benar-benar penting dalam melakukan investasi nilai.


Terkejut dengan lima prinsip di atas? Demikian pula dengan Penulis. Lima hal di atas yang Penulis abaikan saat awal berinvestasi, yang menyebabkan Penulis sempat vakum di pasar saham selama satu tahun lebih. Pada awal berinvestasi, Penulis melakukan 5 kesalahan fatal dengan melakukan hal-hal yang berkebalikan dengan prinsip Warren Buffet di atas:
  1. Penulis justru mengikuti arus dan ikut melakukan panic selling ketika pasar turun sehingga cut loss menjadi hal yang sangat normal.
  2. Setiap keputusan jual dan beli didasarkan atas “rekomendasi” pialang saham, sehingga Penulis menjadi sangat aktif bertransaksi di bursa saham
  3. Ketagihan melihat ticker, rasanya ada yang kurang kalau belum melihat ticker. Lama-lama Penulis menjadi lesu dan stress sendiri saat pasar turun karena terlalu sering melihat ticker.
  4. Penulis sempat membeli saham sampai dengan lebih dari 20 saham dari berbagai sektor, yang akhirnya portfolio Penulis malah berantakan.
  5. Tidak sabaran. Penulis memegang satu saham biasanya 1 bulan paling lama. Kalau saham yang dipegang dalam waktu 1 bulan tidak naik-naik, biasanya langsung dibuang.


Catatan:
Penulis benar-benar tidak merekomendasikan Anda untuk melakukan 5 kesalahan yang Penulis lakukan di atas, tapi kalau mau coba supaya terpacu adrenalinnya, yaa silakan J…