Tampilkan postingan dengan label margin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label margin. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Februari 2017

5 Pantangan Dalam Berinvestasi

Dalam investasi saham, baik itu untuk investasi ataupun trading, ada beberapa pantangan yang sebaiknya Anda hindari. Sama seperti Anda membawa kendaraan, ada rambu lalu lintas yang kalau dilanggar, bisa mengakibatkan hal yang kurang baik terhadap Anda sendiri. Apa saja itu?

1.       Jangan menggunakan fasilitas margin.
Apakah Anda tahu bahwa sebenarnya Anda memiliki fasilitas margin dari sekuritas Anda? Apa sih fasilitas margin itu? Misalkan Anda memiliki dana untuk bertransaksi Rp 100 juta, biasanya Anda memiliki “cadangan” untuk bertransaksi di luar Rp 100 juta tadi yang diberikan oleh sekuritas Anda. Jadi ibaratnya Anda bertransaksi, tapi duitnya ditalangin dulu sama sekuritas. Besarnya pun bervariasi. Ada yang ½ X nya (Rp 50 juta) sampai 4X nya (Rp 400 juta). Seriously? Punya dana Rp 100 juta, tapi bisa transaksi Rp 400 juta lagi pakai uangnya sekuritas? Enak banget donk… Eits nanti dulu… Pertama, perlu Anda ketahui pinjaman dari sekuritas tersebut ada bunganya, sehingga Anda perlu membayar bunganya. Kedua, kalau saham yang anda beli dengan menggunakan fasilitas margin ini bukannya naik malah turun, kerugian yang Anda alami malah lebih besar daripada yang seharusnya. Berikut ini saya sajikan ilustrasi yang semoga membuat Anda memahami betapa bahayanya fasilitas margin.

Anda beli saham A dengan menggunakan dana pribadi Anda sebesar Rp 100 juta, kemudian Anda yakin betul bahwa saham A tadi akan naik 10%, sehingga Anda menggunakan fasilitas margin Rp 400 juta tadi.

Ekspektasi :
Anda berpikir, kalau pake dana sendiri Rp 100 juta, untung 10% dapat profitnya Rp 10 juta. Kalau pakai margin Rp 400 juta, maka bisa dapat tambahan profit Rp 40 juta. Wah total profit nya bisa Rp 50 juta.

Realita (yang sering kali terjadi) :
Saham A tadi bukannya naik 10%, melainkan malah turun 10%. Sehingga seharusnya Anda “hanya” rugi Rp 10 juta, malah makin bonyok karena ruginya bertambah Rp 40 juta menjadi Rp 50 juta. Mengerikan, bukan?

Percayalah, saya pernah di posisi itu dan rasanya super enggak enak. Fasilitas ini sebenarnya adalah alat yang digunakan para sekuritas untuk mengeruk keuntungan tambahan dari Anda, dengan memanfaatkan psikologis dasar seorang manusia, yaitu sifat serakah.

2.       Jangan menggunakan dana dari pinjaman atau hutang
Berbeda dengan poin sebelumnya, jangan berhutang di sini maksudnya jangan berinvestasi menggunakan hutang atau dana pinjaman pihak ketiga. Misalkan anda menggunakan dana pinjaman dari bank; hutang ke teman, saudara, atau keluarga. Mengapa? Alasannya sama seperti poin sebelumnya, jika market sedang bearish (turun) dan saham anda ikutan turun, kerugian Anda akan lebih besar daripada yang seharusnya PLUS hubungan Anda dengan teman, saudara, atau keluarga Anda menjadi tidak enak.

Berinvestasi dengan menggunakan hutang atau dana pinjaman juga akan membuat Anda tidak nyaman, karena bagaimanapun itu bukan uang Anda sendiri. Secara psikologis, karena beban Anda untuk mengembalikan uang tersebut, justru membuat Anda biasanya melakukan keputusan-keputusan yang merugikan Anda sendiri.

Satu hal lagi, jangan berinvestasi dengan menggunakan dana darurat Anda. Jangan menyentuh dana darurat Anda. Karena kita tidak pernah tahu sewaktu-waktu kita membutuhkan dana tersebut untuk keadaan darurat. So sebaiknya gunakan uang dingin untuk berinvestasi (uang yang memang “menganggur” dan dapat diinvestasikan).

3.       Jangan membeli saham berdasarkan valuasi atas proyeksi kinerja di masa yang akan datang
Anda pasti pernah membaca ulasan tentang prospek saham di surat kabar tertentu. Biasanya di situ selain mencantumkan historical kinerja perusahaan, dicantumkan pula proyeksi kinerja perusahaan yang akan datang. Di angka tahunnya biasa ada huruf f (future), contoh : 2017F, 2018F, dst. Dan biasanya, PER dan PBV nya juga dihitung berdasarkan kinerja yang akan datang. Ini tidak benar. Bagaimana mungkin valuasi harga saham saat ini dihitung berdasarkan kinerja di masa yang akan datang?

Yang namanya proyeksi sih memang sah-sah saja, artinya kita optimis bahwa perusahaan tersebut melalui tahun ini dengan baik, maka dipercaya tahun depan akan lebih baik. Namun, apapun bisa terjadi. Banyak faktor risiko yang biasanya lupa diperhitungkan ketika membuat proyeksi. Misal : faktor ekonomi, sosial dan politik, teknologi, kompetitor, sampai cuaca sangat mempengaruhi kinerja perusahaan. Penulis sendiri lebih suka menggunakan proyeksi sebagai bahan pertimbangan saja, bukan untuk melihat valuasi perusahaannya.  

4.       Jangan membeli saham yang masuk ke dalam kategori saham gorengan
Apa itu saham gorengan? Saham gorengan adalah saham yang dikuasai oleh bandar tertentu yang pergerakannya liar dan sulit diprediksi. Saham sejenis ini kadang bisa naik signifikan dalam sehari, tapi hari berikutnya tiba-tiba anjlok tanpa alasan yang jelas. Pergerakan yang tidak wajar karena ada bandar di belakangnya. Banyak trader atau investor yang masih tertarik dengan saham sejenis ini, karena keuntungan besar yang bisa diperoleh. Namun di sisi lain, resiko nya juga sangat besar. Memang menggiurkan ketika Anda bisa mendapatkan profit puluhan sampai ratusan persen dalam beberapa minggu, namun sewaktu-waktu harganya bisa anjlok kembali. Berikut ilustrasinya..

Anda mendengar dari teman Anda Saham X naik 10% dari 60 ke 66 hari ini. Besoknya, Anda beli saham X tadi di harga 66. Eh ternyata masih naik lagi jadi 72, Anda beli lagi di 72. Besok nya masih naik juga ke 80, karena tadi sudah 2x beli dan Anda selalu untung, maka biasanya Anda akan sangat percaya diri. Anda berpikir bahwa kali ini dengan beli di 80, pasti besok akan naik lagi. Anda pun membeli dengan segala kekuatan yang Anda punya di harga 80. Gk taunya sebelum tutup perdagangan hari ini, harganya mulai turun ke 77. Anda mulai deg-degan. Tapi Anda masih optimis, palingan turun sebentar, besok juga naik lagi. Ternyata besok terjun bebas ke 66, balik ke posisi awal beli pertama, sehingga saham anda sekarang berada di posisi nyangkut.

Apa ciri-ciri saham gorengan? Biasanya pergerakan sahamnya liar (anda bisa lihat historical transaction nya) tanpa ada pola yang jelas. Volume perdagangannya juga tiba-tiba melesat di saat-saat tertentu (saat lagi “digoreng”), padahal biasanya saham tersebut volume nya kecil. Selain itu, kenaikannya biasanya tidak dibarengi dengan kenaikan fundamentalnya (laporan keuangannya masih jelek).

“Tapi kan kita bisa untung lebih cepat pak dari saham gorengan”. Oke Anda sekali dua kali untung besar dari saham gorengan, kemudian Anda mulai kecanduan dan percaya deh pasti Anda akan kepeleset suatu saat nanti. Lagian, kalo makan gorengan terus gk baik buat kesehatan (okay, it’s a joke..).  

5.       Jangan membeli saham yang terlalu sering direkomendasikan di media, atau dipenuhi oleh banyak rumor
Pantangan ini sebenarnya berkaitan dengan pantangan membeli saham gorengan tadi. Saham-saham gorengan tadi biasanya sering diberitakan ataupun direkomendasikan di media, sehingga membuat investor makin “gatal” untuk membeli saham tersebut. Bisa jadi itu adalah rumor atau berita pesanan. Tidak semua berita atau informasi yang kita lihat di media itu benar adanya.

Jika Anda membeli sebuah saham karena rumor, di sini Anda tidak sedang berinvestasi, melainkan berspekulasi, apalagi jika Anda membeli tanpa mengecek fundamental dari saham yang bersangkutan. Hindarilah tindakan-tindakan spekulasi yang justru bisa membahayakan investasi Anda.

Lalu bagaimana cara memverifikasi apakah sebuah berita itu benar atau tidak? Anda bisa menghubungi corporate secretary perusahaan yang bersangkutan, atau Anda bisa mengecek nya di website perusahaan dan IDX secara langsung.


Mungkin Anda bertanya, “Memangnya kalau kita tetap menjalankan kelima hal tadi apakah akan langsung kejadian hal-hal jelek yang disebutkan di atas?” Well, enggak juga. Sekali dua kali Anda mungkin belum mengalaminya, sehingga makin lama anda makin berani, dan saat keserakahan mulai menguasai Anda, di sini lah Anda akan mulai sulit untuk melepaskannya dan terjadilah hal-hal yang disebutkan di atas. Saya pernah mengalami hal ini, dan saya tidak mau hal ini terjadi kepada Anda.

Selasa, 31 Januari 2017

How to Lose Money in Investment

What??? Saya gk salah baca nih? Kenapa judulnya How to Lose Money in Investment?

Iya Anda tidak salah baca judulnya. Sengaja Penulis bikin judul seperti itu, Karena banyak investor punya mindset ingin cepat kaya dari saham. Penulis punya teman yang sangat aktif trading di Pasar Saham, sampai-sampai kalau 1 minggu saham yang dia beli masih “jalan di tempat”, tangannya udah gatel pencel tombol “Sell”.  Alasannya, “iya udah seminggu gak jalan, mending beli saham lain udah jalan tuh”. Kemudian dia melanjutkan “kalo ampe seminggu gk naik, kapan gw bisa kaya?” Hmm..

Memang Penulis awalnya juga seperti ini, rasanya gatel kalo pagi kita beli saham eh seharian gk naik-naik, belum lagi kalau malah turun, rasanya pengen kita “Sell” saat itu juga. Nah Mindset seperti ini lah yang, secara tidak sadar, membuat kita sebagai investor saham justru menuju ke jurang kejatuhan. Percayalah, Penulis pernah melalui nya, dan itu sama sekali TIDAK ENAK.

Oleh Karena itu, Penulis akan berbagi jurus jitu How To Lose Money in Investment :   

1. Selalu Berusaha Menebak Arah Pasar dan Mengikuti Rumor dalam Mengambil Keputusan
Banyak investor menguras energi dan waktu untuk memprediksi dan menebak harga saham untuk minggu depan, esok hari, atau beberapa jam ke depan. Apakah memprediksi pasar itu salah? Tidak juga. Cuma masalahnya sangat tidak efisien menghabiskan waktu dan tenaga menebak harga saham. Sering kali kita juga mendengar analis atau pialang saham mengatakan Target Price saham A adalah Rp 600. Namun, sering kali prediksi itu justru meleset.

Lalu apa hubungannya berusaha menebak arah pasar dengan kehilangan uang dalam investasi? Dengan sering nya anda berusaha menebak arah pasar, anda akan mencari banyak informasi teknis. Sayangnya, banyak informasi tersebut justru bersifat RUMOR, yang seringkali justru menyesatkan. Seringkali bandar mempermainkan harga dengan menciptakan rumor dengan harapan mengangkat harga saham. Kemudian banyak Investor ritel mengikuti, dan ternyata setelah rumor tersebut ternyata tidak sesuai kenyataan, saham tersebut kembali turun dan dana Anda malah nyangkut akibat rumor tersebut.

Penulis sendiri sekarang ini sudah tidak terlalu memperhatikan informasi teknis kecuali Corporate Action yang jelas-jelas ada di website resmi www.idx.co.id. Atau jika anda memang ingin memastikan, bisa menghubungi corporate secretary dari emiten yang bersangkutan.


2.  Keterlibatan Emosi secara Berlebihan
Ketika Anda membulatkan keputusan untuk melakukan investasi, Anda tidak hanya melibatkan logika, melainkan juga perasaan Anda. Ada suatu harapan bahwa Anda akan lebih bahagia jika Anda memiliki lebih banyak uang di kemudian hari. Harapan itulah yang merupakan keterlibatan emosional Anda.

Jika Anda pernah merasakan nikmatnya profit taking, atau ketika market sedang bullish, pasti Anda akan merasa bahagia. Sebaliknya, Anda akan sedih, kecewa, dan bahkan frustasi ketika anda harus cut loss atau market sedang bearish. Padahal kalau kita perhatikan di layar trading, harga saham hanyalah sejumlah angka berwarna-warni dan uang adalah angka yang selalu berpindah tangan.

Emosi berlebihan dalam investasi dan khusus nya trading tidak akan membawa keuntungan bagi Anda, karena Anda tidak hanya melihat angka namun sudah dihubungkan dengan kebahagiaan Anda. Percaya atau tidak, salah satu faktor dominan yang menggerakkan bursa di manapun adalah faktor emosi. Panic buying, panic selling, bias selection in stock picking adalah hasil dari tindakan yang dilandaskan pada emosi. Tapi saya harus mengingatkan kepada Anda: Lebih banyak uang tidak selalu membuat Anda bahagia. Maka dari itu, gunakan logika Anda lebih banyak ketimbang perasaan atau intuisi.

3.  Tidak Peduli dengan Fundamental Analysis
Well, banyak investor hanya melihat Technical Analysis sebagai keputusan membeli saham. Jika menunjukkan upward, maka recommend BUY; sebaliknya jika menujukkan downward, maka rekomendasi SELL. Tapi, Anda wajib tahu bahwa pasar saham sangat fluktuatif dalam short term.

Banyak investor pasti pernah mengalami kejadian ini: hari ini beli saham A di harga 600, selama seminggu ke depan turun menjadi 595, 590, dst sampai 580. Berdasarkan analisa teknikal, sudah jelas : CUT LOSS. Eh minggu depannya ternyata hanya dalam 3 – 4 hari perdagangan, harganya bounce back menjadi 650. Ketinggalan kereta deh. Penulis juga pada awal berinvestasi sering kali kecolongan dengan pola-pola seperti ini. Akhirnya karena keseringan Cut Loss, malah jadi berdarah-darah.

Sementara dalam Value Investing, atau jika kita lebih memperhatikan Fundamental Analysis sebuah perusahaan. Justru penurunan harga saham (selama fundamental perusahaannya masih bagus), adalah momen untuk MEMBELI LEBIH BANYAK LAGI. Karena jika fundamental perusahaannya bagus, maka PASTI saham tersebut akan naik lagi (kecuali memang fundamental nya tidak lagi sebagus sebelumnya).

4.  Transaksi Menggunakan Margin
Fasilitas margin memang sudah sangat umum digunakan. Bahkan beberapa sekuritas “berbaik hati” memberikan limit margin yang besar bagi investor yang “rajin” bertransaksi. Apa sih margin itu? Bagi Anda yang belum paham, contoh apabila Anda punya yang untuk beli saham Rp 1 Miliar, dengan margin 1:4 kapasitas anda menjadi Rp 4 Miliar. Wah asyik donk? Eits.. Nanti dulu.. Penulis pernah buntung gara-gara fasilitas margin.

Dengan menggunakan fasilitas margin, anda “optimis” bahwa saham yang anda beli yang menggunakan margin tersebut akan naik, sehingga keuntungan anda menjadi lebih besar. Namun, bagaimana jika saham yang anda beli dengan margin tadi malah turun? Betul sekali, kerugian anda akan jadi lebih besar. Resiko terburuk yang akan anda hadapi adalah margin call, di mana Anda harus menambah deposit margin, atau saham anda terkena forced sell (jual paksa atau cut loss paksa). Mengerikan bukan?

Banyak orang menggunakan margin karena tergiur oleh keuntungan. Contoh di atas tadi, bila anda mengalami untung 20%, maka dengan fasilitas margin tadi, keuntungan anda menjadi 20% X 4 = 80% dari total modal awal. Akan tetapi, keadaan sangat mungkin terbalik. Apabila kita berbicara kerugian dalam margin, maka kerugian anda juga harus dikali empat!!!

Sekarang bayangkan seperti ini: Apa yang terjadi bila anda menggunakan margin dan saham anda turun? Pasti Anda akan berusaha memperkecil loss anda dengan transaksi LEBIIH BESAR lagi. Kemungkinan besar Anda pernah melakukan hal ini, dan ujung-ujungnya pasti Anda selalu nyangkut lebih banyak lagi. Bukan perkara jago atau tidak, tapi emosi Anda sudah membubarkan tujuan semula anda.

5.  Terlalu Asyik Trading
Kebanyakan investor berkamuflase menjadi seorang trader, di mana ia sangat aktif jual dan beli saham, bahkan bisa hampir setiap hari. Alasannya yaa itu tadi, supaya lebih cepat kaya. Namun tahukah anda? Statistik menunjukkan, dalam kurun waktu 10 tahun, investor yang sering melakukan strategi bertahan (hold), ternyata mendapatkan return yang jauh lebih signifikan, ketimbang trader yang rajin dan rutin melakukan trading.

Lalu ngapain Anda berusaha sampai ngotot kalau hasilnya sama sekali tidak sepadan? Logika sederhananya, hukum Pareto berlaku pula di sini. Semakin banyak dan semakin sering frekuensi trading anda, maka resiko anda akan semakin meningkat, dan artinya kemungkinan Anda kehilangan uang juga semakin besar.

Salah satu ajaran Warren Buffett adalah “Don’t hit every incoming ball”. Jangan memukul tiap lemparan yang datang. Buffett suka untuk melakukan pembelian dan penjualan sedikit mungkin. Memang tidak mudah, karena godaan untuk taking profit begitu ada untung sedikit memang besar. Sekarang, Penulis hanya menjual saham hanya JIKA analisa fundamental atau laporan keuangan terbaru tidak lagi sebagus sebelumnya, atau valuasi nya sudah overvalued.


Jadi bagaimana? Anda sudah tahu sekarang resep jitu kehilangan uang dalam berinvestasi. Penulis tentunya berharap Anda tidak sampai mengalami hal tersebut. Jadi alangkah baiknya jika mulai sekarang, Anda (dan juga Penulis) lebih bijak dalam berinvestasi.