Tampilkan postingan dengan label emosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label emosi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Februari 2017

Benarkah Investasi Tetangga Selalu Lebih Hijau?

Kita sering mendengar istilah rumput tetangga selalu lebih hijau. Apa iya benar begitu? Jika memang rumput tetangga selalu lebih hijau, Anda akan selalu melihat ke samping dan membandingkan Anda dengan orang lain. Dengan kata lain, Anda tidak akan pernah puas. Begitu pula dengan investasi. Anda kemungkinan besar pasti pernah membandingkan portfolio yang Anda pegang saat ini dengan portfolio teman Anda, atau mungkin investment club Anda, dan Anda merasa bahwa return yang Anda dapatkan sekarang tidak menarik dibandingkan dengan investasi teman Anda. Namun, Anda perlu ingat bahwa tidak ada satupun investor di dunia ini yang memiliki gaya, strategi, tujuan investasi, atau tingkat penerimaan risiko yang 100% sama, karena kita semua adalah individu yang berbeda.



Rumput tetangga selalu lebih hijau?


Anda mungkin pernah mengalami beberapa contoh kejadian berikut ini :

Contoh 1 :
Asumsikan Anda membeli saham A di Rp 60 per lembar saham, dan berniat menjual di Rp 90 per lembar saham. DI tengah perjalanan, Anda melihat teman Anda ternyata memegang saham B beli di Rp 50 dan keluar di Rp 100 dalam waktu 1 minggu. Sementara dalam waktu sebulan, saham A Anda tadi masih berada di Rp 68 per lembar saham.

Contoh 2 :
Anda membeli saham C setiap bulannya secara berkala dengan tujuan sebagai uang pensiun dalam jangka waktu 10 tahun dari sekarang. Anda sudah memperkirakan akan mendapat ROI sebesar 300% dalam waktu 10 tahun. Namun, manajer investasi Anda tiba-tiba menceritakan saham D dalam waktu 1 tahun bisa memperoleh ROI sebesar 250%.

Bagaimana perasaan Anda? Hmm sebagai manusia normal, pastinya ada perasaan iri, kecewa, sedikit menyesal karena portfolio saham Anda menjadi kurang seksi dibandingkan dengan teman Anda atau yang manajer investasi Anda ceritakan. 

Hmm.. sekarang coba kita balik ceritanya. Bayangkan Anda berada di posisi teman Anda, di mana portfolio Anda melejit jauh lebih cepat daripada teman Anda. Apa yang ada di pikiran Anda? Saya berani bertaruh, 80% kemungkinan Anda akan bilang “main saham itu cara mudah dan cepat dapat duit”, dan karena uang yang Anda dapatkan “mudah dan cepat”, maka selanjutnya Anda akan membuang profit yang sudah Anda dapatkan. Mungkin Anda akan membeli mobil mewah, berlibur ke Las Vegas (atau mungkin berjudi di sana), atau hal-hal konsumtif lainnya. Anda menjadi kemaruk dan membuang uang yang Anda dapatkan. Anda mungkin ngeles dengan beralasan bahwa hal tersebut Anda lakukan untuk menikmati hasil jerih payah Anda. Kemudian, sepulangnya dari Las Vegas, karena Anda menganggap main saham itu mudah dan cepat dapat duit, Anda jadi sombong. Anda kemudian main lagi di saham dan hasilnya sekarang? Zonk!!! Karena ketamakan Anda tadi, Anda harus cut loss 50%.

Bandingkan dengan jika Anda meraih profit yang reasonable namun konsisten, meskipun tidak terlalu spektakuler, Anda akan menjaga betul uang hasil investasi Anda. Anda mungkin “hanya” profit 20 – 30% per tahun namun konsisten, Anda akan berlaku jauh lebih bijak menjaga uang Anda daripada hot money yang Anda dapatkan dalam waktu cepat. Dalam investasi berikutnya pun, Anda juga akan menjadi berhati-hati dengan memperhatikan fundamental perusahaan tersebut sebelum membeli, bukannya membeli karena saham sebelah naik lebih cepat.


Saat Anda sudah merealisasikan profit, Anda sebenarnya memiliki dua pilihan : memutarkan profit anda kembali, atau menghamburkannya. Menggunakan sebagian dari profit untuk hal yang Anda sukai memang tidak salah, karena Anda perlu menghargai diri Anda sendiri. Namun alangkah baiknya jika tidak berlebihan. Ingatlah jika Anda menang besar hari ini, belum tentu Anda menang besar esok hari. Tetaplah membumi.

Selasa, 31 Januari 2017

How to Lose Money in Investment

What??? Saya gk salah baca nih? Kenapa judulnya How to Lose Money in Investment?

Iya Anda tidak salah baca judulnya. Sengaja Penulis bikin judul seperti itu, Karena banyak investor punya mindset ingin cepat kaya dari saham. Penulis punya teman yang sangat aktif trading di Pasar Saham, sampai-sampai kalau 1 minggu saham yang dia beli masih “jalan di tempat”, tangannya udah gatel pencel tombol “Sell”.  Alasannya, “iya udah seminggu gak jalan, mending beli saham lain udah jalan tuh”. Kemudian dia melanjutkan “kalo ampe seminggu gk naik, kapan gw bisa kaya?” Hmm..

Memang Penulis awalnya juga seperti ini, rasanya gatel kalo pagi kita beli saham eh seharian gk naik-naik, belum lagi kalau malah turun, rasanya pengen kita “Sell” saat itu juga. Nah Mindset seperti ini lah yang, secara tidak sadar, membuat kita sebagai investor saham justru menuju ke jurang kejatuhan. Percayalah, Penulis pernah melalui nya, dan itu sama sekali TIDAK ENAK.

Oleh Karena itu, Penulis akan berbagi jurus jitu How To Lose Money in Investment :   

1. Selalu Berusaha Menebak Arah Pasar dan Mengikuti Rumor dalam Mengambil Keputusan
Banyak investor menguras energi dan waktu untuk memprediksi dan menebak harga saham untuk minggu depan, esok hari, atau beberapa jam ke depan. Apakah memprediksi pasar itu salah? Tidak juga. Cuma masalahnya sangat tidak efisien menghabiskan waktu dan tenaga menebak harga saham. Sering kali kita juga mendengar analis atau pialang saham mengatakan Target Price saham A adalah Rp 600. Namun, sering kali prediksi itu justru meleset.

Lalu apa hubungannya berusaha menebak arah pasar dengan kehilangan uang dalam investasi? Dengan sering nya anda berusaha menebak arah pasar, anda akan mencari banyak informasi teknis. Sayangnya, banyak informasi tersebut justru bersifat RUMOR, yang seringkali justru menyesatkan. Seringkali bandar mempermainkan harga dengan menciptakan rumor dengan harapan mengangkat harga saham. Kemudian banyak Investor ritel mengikuti, dan ternyata setelah rumor tersebut ternyata tidak sesuai kenyataan, saham tersebut kembali turun dan dana Anda malah nyangkut akibat rumor tersebut.

Penulis sendiri sekarang ini sudah tidak terlalu memperhatikan informasi teknis kecuali Corporate Action yang jelas-jelas ada di website resmi www.idx.co.id. Atau jika anda memang ingin memastikan, bisa menghubungi corporate secretary dari emiten yang bersangkutan.


2.  Keterlibatan Emosi secara Berlebihan
Ketika Anda membulatkan keputusan untuk melakukan investasi, Anda tidak hanya melibatkan logika, melainkan juga perasaan Anda. Ada suatu harapan bahwa Anda akan lebih bahagia jika Anda memiliki lebih banyak uang di kemudian hari. Harapan itulah yang merupakan keterlibatan emosional Anda.

Jika Anda pernah merasakan nikmatnya profit taking, atau ketika market sedang bullish, pasti Anda akan merasa bahagia. Sebaliknya, Anda akan sedih, kecewa, dan bahkan frustasi ketika anda harus cut loss atau market sedang bearish. Padahal kalau kita perhatikan di layar trading, harga saham hanyalah sejumlah angka berwarna-warni dan uang adalah angka yang selalu berpindah tangan.

Emosi berlebihan dalam investasi dan khusus nya trading tidak akan membawa keuntungan bagi Anda, karena Anda tidak hanya melihat angka namun sudah dihubungkan dengan kebahagiaan Anda. Percaya atau tidak, salah satu faktor dominan yang menggerakkan bursa di manapun adalah faktor emosi. Panic buying, panic selling, bias selection in stock picking adalah hasil dari tindakan yang dilandaskan pada emosi. Tapi saya harus mengingatkan kepada Anda: Lebih banyak uang tidak selalu membuat Anda bahagia. Maka dari itu, gunakan logika Anda lebih banyak ketimbang perasaan atau intuisi.

3.  Tidak Peduli dengan Fundamental Analysis
Well, banyak investor hanya melihat Technical Analysis sebagai keputusan membeli saham. Jika menunjukkan upward, maka recommend BUY; sebaliknya jika menujukkan downward, maka rekomendasi SELL. Tapi, Anda wajib tahu bahwa pasar saham sangat fluktuatif dalam short term.

Banyak investor pasti pernah mengalami kejadian ini: hari ini beli saham A di harga 600, selama seminggu ke depan turun menjadi 595, 590, dst sampai 580. Berdasarkan analisa teknikal, sudah jelas : CUT LOSS. Eh minggu depannya ternyata hanya dalam 3 – 4 hari perdagangan, harganya bounce back menjadi 650. Ketinggalan kereta deh. Penulis juga pada awal berinvestasi sering kali kecolongan dengan pola-pola seperti ini. Akhirnya karena keseringan Cut Loss, malah jadi berdarah-darah.

Sementara dalam Value Investing, atau jika kita lebih memperhatikan Fundamental Analysis sebuah perusahaan. Justru penurunan harga saham (selama fundamental perusahaannya masih bagus), adalah momen untuk MEMBELI LEBIH BANYAK LAGI. Karena jika fundamental perusahaannya bagus, maka PASTI saham tersebut akan naik lagi (kecuali memang fundamental nya tidak lagi sebagus sebelumnya).

4.  Transaksi Menggunakan Margin
Fasilitas margin memang sudah sangat umum digunakan. Bahkan beberapa sekuritas “berbaik hati” memberikan limit margin yang besar bagi investor yang “rajin” bertransaksi. Apa sih margin itu? Bagi Anda yang belum paham, contoh apabila Anda punya yang untuk beli saham Rp 1 Miliar, dengan margin 1:4 kapasitas anda menjadi Rp 4 Miliar. Wah asyik donk? Eits.. Nanti dulu.. Penulis pernah buntung gara-gara fasilitas margin.

Dengan menggunakan fasilitas margin, anda “optimis” bahwa saham yang anda beli yang menggunakan margin tersebut akan naik, sehingga keuntungan anda menjadi lebih besar. Namun, bagaimana jika saham yang anda beli dengan margin tadi malah turun? Betul sekali, kerugian anda akan jadi lebih besar. Resiko terburuk yang akan anda hadapi adalah margin call, di mana Anda harus menambah deposit margin, atau saham anda terkena forced sell (jual paksa atau cut loss paksa). Mengerikan bukan?

Banyak orang menggunakan margin karena tergiur oleh keuntungan. Contoh di atas tadi, bila anda mengalami untung 20%, maka dengan fasilitas margin tadi, keuntungan anda menjadi 20% X 4 = 80% dari total modal awal. Akan tetapi, keadaan sangat mungkin terbalik. Apabila kita berbicara kerugian dalam margin, maka kerugian anda juga harus dikali empat!!!

Sekarang bayangkan seperti ini: Apa yang terjadi bila anda menggunakan margin dan saham anda turun? Pasti Anda akan berusaha memperkecil loss anda dengan transaksi LEBIIH BESAR lagi. Kemungkinan besar Anda pernah melakukan hal ini, dan ujung-ujungnya pasti Anda selalu nyangkut lebih banyak lagi. Bukan perkara jago atau tidak, tapi emosi Anda sudah membubarkan tujuan semula anda.

5.  Terlalu Asyik Trading
Kebanyakan investor berkamuflase menjadi seorang trader, di mana ia sangat aktif jual dan beli saham, bahkan bisa hampir setiap hari. Alasannya yaa itu tadi, supaya lebih cepat kaya. Namun tahukah anda? Statistik menunjukkan, dalam kurun waktu 10 tahun, investor yang sering melakukan strategi bertahan (hold), ternyata mendapatkan return yang jauh lebih signifikan, ketimbang trader yang rajin dan rutin melakukan trading.

Lalu ngapain Anda berusaha sampai ngotot kalau hasilnya sama sekali tidak sepadan? Logika sederhananya, hukum Pareto berlaku pula di sini. Semakin banyak dan semakin sering frekuensi trading anda, maka resiko anda akan semakin meningkat, dan artinya kemungkinan Anda kehilangan uang juga semakin besar.

Salah satu ajaran Warren Buffett adalah “Don’t hit every incoming ball”. Jangan memukul tiap lemparan yang datang. Buffett suka untuk melakukan pembelian dan penjualan sedikit mungkin. Memang tidak mudah, karena godaan untuk taking profit begitu ada untung sedikit memang besar. Sekarang, Penulis hanya menjual saham hanya JIKA analisa fundamental atau laporan keuangan terbaru tidak lagi sebagus sebelumnya, atau valuasi nya sudah overvalued.


Jadi bagaimana? Anda sudah tahu sekarang resep jitu kehilangan uang dalam berinvestasi. Penulis tentunya berharap Anda tidak sampai mengalami hal tersebut. Jadi alangkah baiknya jika mulai sekarang, Anda (dan juga Penulis) lebih bijak dalam berinvestasi.