Tampilkan postingan dengan label resiko. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resiko. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2017

Tipe Investor Seperti Apakah Anda?

Setiap orang punya profil nya masing-masing. Sama hal nya dengan investor yang punya tipe profil resiko masing-masing. Ada 3 tipe investor menurut profil resiko dalam berinvestasi, di mana hal ini akan membantu Anda dalam memilih produk investasi apa yang cocok :

1.       Tipe Konservatif (Risk Averse) : Investor yang memiliki kecenderungan menanam investasi dengan keuntungan (yield) yang layak; cenderung memilih instrument aman dengan hasil yang sudah diketahui sebelumnya. Mereka biasanya berinvestasi untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dengan rentang waktu investasi yang cukup panjang.

2.       Tipe Moderate (Risk Neutral) : tipe investor yang menginginkan resiko menengah. Investor tipe ini selalu mencari proporsi yang seimbang antara resiko yang mungkin terjadi dengan pendapatan yang dapat diraih. Tipikal investor ini, mereka akan selalu berhati-hati dalam memilih jenis investasi. Hanya investasi proporsional yang akan dipilih.

3.       Tipe Agresif (Risk Taker) : Investor tipe ini umumnya berinvestasi dengan rentang waktu relative pendek, karena mengharapkan adanya keuntungan yang besar dalam waktu yang singkat. Cenderung memilih produk yang mengalokasikan dananya pada instrument pasar yang beresiko tinggi.



Anda mungkin sering mendengar saham adalah tipe instrumen investasi yang High Risk – High Return. Apakah jika saya termasuk tipe investor yang tipe konservatif dan tipe moderate, apakah saham tidak cocok untuk saya? Well jawabannya bisa iya bisa tidak. Mungkin jika Anda termasuk tipe investor yang tipe konservatif dan tipe moderate, Anda bisa berinvestasi di ORI, Reksadana Campuran, atau instrumen investasi lainnya yang lebih rendah resiko nya.

Namun, jika Anda memutuskan ingin berinvestasi di saham, jangan takut untuk memulai. Saya sendiri dalam berinvestasi tingkat pengambilan resiko nya sudah jauh berkurang dibandingkan 8 – 9 tahun lalu ketika mulai berinvestasi. Dulu mungkin saya 100% risk taker dalam memilih saham. Namun, setelah berkeluarga, saya pun menjadi jauh lebih dewasa dalam berinvestasi. Profile resiko saya saat ini adalah moderate aggressive. Pilihan-pilihan saham Penulis saat ini bukanlah saham yang bisa “naik cepat”, melainkan saham yang punya fundamental bagus dan valuasinya murah. Saham-saham tersebut mungkin tidak menghasilkan profit instan seperti saham-saham gorengan. Saham-saham tersebut tetap akan menghasilkan profit yang unbelievable, namun tetap membutuhkan waktu. Bagi saya, yang penting saya bisa menghasilkan profit yang reasonable namun konsisten sesuai dengan target saya, daripada harus spectacular namun volatile nya sangat tinggi. Anda bisa baca lagi postingan saya tentang Reasonable & Consistent Returns >Spectacular & Volatile Returns .

Investor-investor kelas dunia macam Warren Buffett pun sebenarnya bukan orang yang aggresive dalam mengambil resiko. Jam terbang lah yang dengan sendirinya akan membentuk kedewasaan seorang investor. Jika Warren Buffett adalah orang yang agresif dalam mengambil resiko, Beliau pasti sudah tergoda dalam mengambil saham tech company. Akan tetapi, Warren Buffett memilih untuk berinvestasi di saham-saham yang bisnis nya sederhana namun memiliki fundamental yang sesuai dengan standard nya.

Satu hal yang ingin saya tekankan di sini adalah tidak ada yang salah apakah anda adalah tipe konservatif, tipe moderat atau tipe agresif. Itu semua kembali kepada profil resiko kita masing-masing sebagai investor. Namun perlu dibedakan seorang investor yang risk taker dengan seorang investor yang SOK risk taker. Seorang investor yang risk taker tetap mengetahui resiko yang akan dia tanggung jika ternyata keputusan investasinya tidak sesuai yang diharapkan, dia tetap bisa mengukur batas bawah kerugian yang akan ditanggung. Sementara seorang yang sok risk taker,  dia bertindak dahulu (mengeksekusi keputusan dalam berinvestasi) tanpa mengetahui berapa besar resiko yang akan ditanggung, hanya untuk terlihat keren dan berani saja.

Apabila Anda ingin mengetahui profile resiko Anda, Anda bisa menggunakan test sederhana untuk mengukur profil resiko Anda di sini. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda.

Jumat, 10 Februari 2017

Benarkah Investasi Tetangga Selalu Lebih Hijau?

Kita sering mendengar istilah rumput tetangga selalu lebih hijau. Apa iya benar begitu? Jika memang rumput tetangga selalu lebih hijau, Anda akan selalu melihat ke samping dan membandingkan Anda dengan orang lain. Dengan kata lain, Anda tidak akan pernah puas. Begitu pula dengan investasi. Anda kemungkinan besar pasti pernah membandingkan portfolio yang Anda pegang saat ini dengan portfolio teman Anda, atau mungkin investment club Anda, dan Anda merasa bahwa return yang Anda dapatkan sekarang tidak menarik dibandingkan dengan investasi teman Anda. Namun, Anda perlu ingat bahwa tidak ada satupun investor di dunia ini yang memiliki gaya, strategi, tujuan investasi, atau tingkat penerimaan risiko yang 100% sama, karena kita semua adalah individu yang berbeda.



Rumput tetangga selalu lebih hijau?


Anda mungkin pernah mengalami beberapa contoh kejadian berikut ini :

Contoh 1 :
Asumsikan Anda membeli saham A di Rp 60 per lembar saham, dan berniat menjual di Rp 90 per lembar saham. DI tengah perjalanan, Anda melihat teman Anda ternyata memegang saham B beli di Rp 50 dan keluar di Rp 100 dalam waktu 1 minggu. Sementara dalam waktu sebulan, saham A Anda tadi masih berada di Rp 68 per lembar saham.

Contoh 2 :
Anda membeli saham C setiap bulannya secara berkala dengan tujuan sebagai uang pensiun dalam jangka waktu 10 tahun dari sekarang. Anda sudah memperkirakan akan mendapat ROI sebesar 300% dalam waktu 10 tahun. Namun, manajer investasi Anda tiba-tiba menceritakan saham D dalam waktu 1 tahun bisa memperoleh ROI sebesar 250%.

Bagaimana perasaan Anda? Hmm sebagai manusia normal, pastinya ada perasaan iri, kecewa, sedikit menyesal karena portfolio saham Anda menjadi kurang seksi dibandingkan dengan teman Anda atau yang manajer investasi Anda ceritakan. 

Hmm.. sekarang coba kita balik ceritanya. Bayangkan Anda berada di posisi teman Anda, di mana portfolio Anda melejit jauh lebih cepat daripada teman Anda. Apa yang ada di pikiran Anda? Saya berani bertaruh, 80% kemungkinan Anda akan bilang “main saham itu cara mudah dan cepat dapat duit”, dan karena uang yang Anda dapatkan “mudah dan cepat”, maka selanjutnya Anda akan membuang profit yang sudah Anda dapatkan. Mungkin Anda akan membeli mobil mewah, berlibur ke Las Vegas (atau mungkin berjudi di sana), atau hal-hal konsumtif lainnya. Anda menjadi kemaruk dan membuang uang yang Anda dapatkan. Anda mungkin ngeles dengan beralasan bahwa hal tersebut Anda lakukan untuk menikmati hasil jerih payah Anda. Kemudian, sepulangnya dari Las Vegas, karena Anda menganggap main saham itu mudah dan cepat dapat duit, Anda jadi sombong. Anda kemudian main lagi di saham dan hasilnya sekarang? Zonk!!! Karena ketamakan Anda tadi, Anda harus cut loss 50%.

Bandingkan dengan jika Anda meraih profit yang reasonable namun konsisten, meskipun tidak terlalu spektakuler, Anda akan menjaga betul uang hasil investasi Anda. Anda mungkin “hanya” profit 20 – 30% per tahun namun konsisten, Anda akan berlaku jauh lebih bijak menjaga uang Anda daripada hot money yang Anda dapatkan dalam waktu cepat. Dalam investasi berikutnya pun, Anda juga akan menjadi berhati-hati dengan memperhatikan fundamental perusahaan tersebut sebelum membeli, bukannya membeli karena saham sebelah naik lebih cepat.


Saat Anda sudah merealisasikan profit, Anda sebenarnya memiliki dua pilihan : memutarkan profit anda kembali, atau menghamburkannya. Menggunakan sebagian dari profit untuk hal yang Anda sukai memang tidak salah, karena Anda perlu menghargai diri Anda sendiri. Namun alangkah baiknya jika tidak berlebihan. Ingatlah jika Anda menang besar hari ini, belum tentu Anda menang besar esok hari. Tetaplah membumi.

Selasa, 07 Februari 2017

Reasonable & Consistent Returns > Spectacular & Volatile Returns

Dari judul di atas, Anda mungkin sudah bisa menebak isi artikel ini. Setelah selesai membaca artikel ini, Anda bisa setuju atau Anda bisa tidak setuju dengan artikel ini. Itu pilihan kita masing-masing.

Dalam artikel ini, Penulis akan sharing mengenai RETURN, sesuatu yang kita sebagai investor saham harapkan dengan menaruh sejumlah uang kita di saham. Ketika terpikir membuat artikel ini, Penulis kembali membayangkan indahnya tahun 2009 yang lampau, di mana profit 2-3% sehari, atau 30% sebulan adalah hal yang sangat amat mudah didapatkan seorang investor saham. Hal tersebut berlangsung berbulan-bulan sampai beberapa tahun berikutnya.

Screenshot IHSG periode 2008 – 2009

Jika kita lihat screenshot dari IHSG di atas, pada tahun 2008, IHSG terjun bebas dari level 2,750-an pada awal 2008, mencapai titik terendah di di 1,100-an pada akhir Oktober 2008, dan tahun 2009 ketika awal-awal Penulis mulai berinvestasi, Anda bisa lihat IHSG kembali ke level 2,500-an atau IHSG naik lebih dari 100% dalam waktu 1 tahun !!! Luar biasa bukan?

Penulis ingat di tahun 2009 itu, Penulis meraih profit hampir 150% dari modal awal. Saking semangatnya, 80% gaji yang Penulis dapatkan dari bekerja langsung disetorkan untuk membeli saham. Hal ini masih berlanjut di 2010 sampai 2012. Namun, memasuki 2013 cerita mulai berubah. Penulis menjadi serakah. Tujuan awal berinvestasi berubah menjadi seperti meja judi. Dan seperti yang sudah diceritakan, waktu itu Penulis sangat keranjingan membeli saham-saham HOT yang return nya gila-gilaan (baca : seven brothers). Tetapi dari saham-saham HOT ini juga lah, Penulis mengalami kejatuhan.

Semenjak Penulis mempelajari Value Investing, Penulis mendapatkan satu hal yang sangat berharga. Reasonable & Consistent Returns > Spectacular & Volatile Returns. Dalam Value Investing, Penulis belajar bagaimana melihat valuasi sebuah perusahaan berdasarkan laporan keuangannya. Tidak peduli apakah ada saham seksi yang naik gila-gilaan dalam waktu cepat, namun jika laporan keuangannya jelek atau sudah overvalued, maka Penulis TIDAK AKAN MEMBELINYA.

Penulis juga belajat bahwa seorang investor yang menghasilkan profit reasonable namun konsisten setiap tahunnya, secara mengejutkan ternyata menghasilkan uang yang jauh lebih banyak daripada investor yang menghasilkan profit yang spektakuler dari tahun-tahun tertentu, namun juga kehilangan uang nya di tahun-tahun berikutnya. Contohnya? Warren Buffett setiap tahunnya secara konsisten menghasilkan rata-rata annual return 24.7% selama 50 tahun terakhir (atau uangnya meningkat 2X lipat setiap 3 tahun).


Jadi, Anda pilih yang mana? Memilih saham-saham HOT yang menawarkan return spektakuler dengan volatilitas yang tinggi, atau return yang reasonable namun konsisten? Anda sendiri yang punya jawabannya…